<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Perencanaan wilayah dan pembangunan pendidikan</title>
	<atom:link href="http://theplanner.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://theplanner.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Jun 2009 10:10:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Tinjauan Teori Lokasi by Fuad</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-teori-lokasi/#comment-20</link>
		<dc:creator>Fuad</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 10:10:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=8#comment-20</guid>
		<description>Woah!!!!!! ThanKS Akhirnya setelah Berabad-abad mencari akhirnya dapet juga&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Woah!!!!!! ThanKS Akhirnya setelah Berabad-abad mencari akhirnya dapet juga&gt;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tinjauan Teori Lokasi by h3nny</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-teori-lokasi/#comment-19</link>
		<dc:creator>h3nny</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 11:49:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=8#comment-19</guid>
		<description>kurang lengkap nieh artikel nya...lengkapin donk...ini juga buat tugas sekolah....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kurang lengkap nieh artikel nya&#8230;lengkapin donk&#8230;ini juga buat tugas sekolah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Evaluasi Persebaran Sarana Pendidikan Menengah Dalam Rangka Peningkatan Aksesibilitas Sekolah by Lia Marlia</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/evaluasi-persebaran-sarana-pendidikan-menengah-dalam-rangka-peningkatan-aksesibilitas-sekolah/#comment-18</link>
		<dc:creator>Lia Marlia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 11:57:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=3#comment-18</guid>
		<description>Mas, saya mau mempelajari banyak tentang topik ini. Tolong tuliskan sumber bacaannya sebagai rujukan tambahan. Terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas, saya mau mempelajari banyak tentang topik ini. Tolong tuliskan sumber bacaannya sebagai rujukan tambahan. Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tinjauan Teori Lokasi by agus</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-teori-lokasi/#comment-17</link>
		<dc:creator>agus</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Feb 2009 12:28:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=8#comment-17</guid>
		<description>klo bleh sy d copykn pnelitian ini, ato klo ada bkunya aq bsa bli k mna? Tq</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>klo bleh sy d copykn pnelitian ini, ato klo ada bkunya aq bsa bli k mna? Tq</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Evaluasi Persebaran Sarana Pendidikan Menengah Dalam Rangka Peningkatan Aksesibilitas Sekolah by Zaslina Zainuddin</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/evaluasi-persebaran-sarana-pendidikan-menengah-dalam-rangka-peningkatan-aksesibilitas-sekolah/#comment-16</link>
		<dc:creator>Zaslina Zainuddin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 09:20:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=3#comment-16</guid>
		<description>Bagi sumber bacaannya donk. TQ</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi sumber bacaannya donk. TQ</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tinjauan Teori Lokasi by Moh. Faur fahrurrozi</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-teori-lokasi/#comment-15</link>
		<dc:creator>Moh. Faur fahrurrozi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 03:54:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=8#comment-15</guid>
		<description>2 Tinjauan Teori Lokasi

Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006:77).

Salah satu hal banyak dibahas dalam teori lokasi adalah pengaruh jarak terhadap intensitas orang bepergian dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Analisis ini dapat dikembangkan untuk melihat suatu lokasi yang memiliki daya tarik terhadap batas wilayah pengaruhnya, dimana orang masih ingin mendatangi pusat yang memiliki daya tarik tersebut. Hal ini terkait dengan besarnya daya tarik pada pusat tersebut dan jarak antara lokasi dengan pusat tersebut.

Terkait dengan lokasi maka salah satu faktor yang menentukan apakah suatu lokasi menarik untuk dikunjungi atau tidak adalah tingkat aksesibilitas. Tingkat aksesibilitas adalah tingkat kemudahan untuk mencapai suatu lokasi ditinjau dari lokasi lain di sekitarnya (Tarigan, 2006:78). Menurut Tarigan, tingkat aksesibilitas dipengaruhi oleh jarak, kondisi prasarana perhubungan, ketersediaan berbagai sarana penghubung termasuk frekuensinya dan tingkat keamanan serta kenyamanan untuk melalui jalur tersebut.

Dalam analisis kota yang telah ada atau rencana kota, dikenal standar lokasi (standard for location requirement) atau standar jarak (Jayadinata, 1999:160) seperti terlihat pada tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1

Standar Jarak Dalam Kota

No
 Prasarana
 Jarak dari tempat tinggal (berjalan kaki)
 
1

2

3

4

5

6

7

8

9
 Pusat tempat kerjaPusat kota (dengan pasar, dan sebagainya)Pasar lokal

Sekolah Dasar

Sekolah Menengah Pertama

Sekolah Lanjutan Atas

Tempat bermain anak-anak dan taman lokal

Tempat olah raga dan pusat lalita (rekreasi)

Taman untuk umum atau cagar (seperti kebun binatang, dan sebagainya
 20 sampai 30 menit30 sampai 45 menit¾ km atau 10 menit

¾ km atau 10 menit

1 ½ km atau 20 menit

20 atau 30 menit

¾ km atau 20 menit

1 ½ km atau 20 menit

30 sampai 60 menit
 

Sumber: Chapin dalam Jayadinata (1999:161)

Standar yang digunakan harus menggunakan jenis transportasi yang sama seperti pada tabel di atas diukur berdasarkan waktu tempuh dengan berjalan kaki.

2.2.1 Teori Tempat Pemusatan

Suatu tempat merupakan pusat pelayanan. Menurut Christaller, pusat-pusat pelayanan cenderung tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu akan terlihat dengan jelas di wilayah yang mempunyai dua syarat: (1) topografi yang seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat pengaruh dari lereng dan pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur pengangkutan, (2) kehidupan ekonomi yang homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-padian, kayu atau batu bara.

Dalam keadaan yang mempunyai kedua syarat seperti di atas itu akan berkembang tiga hal (Jayadinata, 1999:180) seperti diterangkan di bawah ini.

Ajang jasa (ajang niaga) akan berkembang secara wajar di seluruh wilayah dengan jarak dua jam berjalan kaki atau 2 x 3,5 = 7 km. Secara teori tiap pusat pelayanan melayani kawasan yang berbentuk lingkaran dengan radius 3,5 km (satu jam berjalan kaki), jadi pusat wilayah layanan akan terletak di pusat kawasan tersebut. Teori ini disebut teori tempat pemusatan (central place theory). 
Kawasan-kawasan berbentuk lingkaran yang saling berbatasan, walaupun bentuk lingkaran adalah paling efisien, akan mempunyai bagian-bagian yang bertumpang tindih atau bagian-bagian yang senjang (kosong), sehingga bentuk lingkaran itu tidak biasa digunakan untuk kawasan atau wilayahnya. Berhubung dengan itu Christaller mengemukakan bahwa pusat pelayanan akan berlokasi menurut pola heksagon, sehingga wilayah akan saling berbatasan tanpa bertumpang tindih. 
Dalam wilayah akan berkembang ajang niaga dalam pola heksagon. Yang palng banyak adalah dusun-dusun sebagai pusat perdagangan yang melayani penduduk wilayah pedesaan. Satu dusun dengan dusun lainnya akan menempuh jarak 7 km. 
&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;



Gambar 2.2 Hipotesis Christaller

Dalam asumsi yang sama dengan Christaller, Lloyd (Location in space, 1977) melihat bahwa jangkauan/luas pelayanan dari setiap komoditas itu ada batasnya yang dinamakan range dan ada batas minimal dari luas pelayanannya dinamakan threshold. (Tarigan, 2006:79)

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan model Christaller tentang terjadinya model area pelayanan heksagonal sebagai berikut: (Tarigan, 2006:80)

Mula-mula terbentuk area pelayanan berupa lingkaran-lingkaran. Setiap lingkaran memilik pusat dan menggambarkan threshold. Lingkaran-lingkaran ini tidak tumpang tindih seperti pada bagian A dari Gambar 2.3. 
&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt; &lt;!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--&gt;

Gambar 2.3 Kronologi terjadinya area pelayanan heksagonal

Kemudian digambarkan lingkaran-lingkaran berupa range dari pelayanan tersebut yang lingkarannya boleh tumpang tindih seperti terlihat pada bagian B. 
Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih, seperti terlihat pada bagian C. 
4. Tiap pelayanan berdasarkan tingkat ordenya memilik heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k=3, pelayanan orde I lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde II. Pelayanan orde II lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde III, dan seterusnya. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar kecilnya sesuai dengan besarnya heksagonal tersebut. Heksagona yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih, seperti terlihat pada bagian D.

2.2.2 Pola Tata Guna Tanah Perkotaan

Dalam pola tata guna tanah perkotaan yang berhubungan dengan nilai ekonomi, terdapat beberapa teori sebagai berikut:

2.2.2.1 Teori Jalur Sepusat

Teori jalur sepusat atau Teori Konsentrik (Consentric Zone Theory) E.W. Burgess, mengemukakan bahwa kota terbagi sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:129)

(1) Pada lingkaran dalam terletak pusat kota (central business district atau CBD) yang terdiri atas: bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan toko pusat perbelanjaan;

(2) Pada lingkaran tengah pertama terdapat jalur alih: rumah-rumah sewaan, kawasan industri, perumahan buruh;

(3) Pada lingkaran tengah kedua terletak jalur wisma buruh, yakni kawasan perumahaan untuk tenaga kerja pabrik;

(4) Pada lingkaran luar terdapat jalur madyawisma, yakni kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja halus dan kaum madya (middle class);

(5) Di luar lingkaran terdapat jalur pendugdag atau jalur pengelajon (jalur ulang-alik); sepanjang jalan besar terdapat perumahan masyarakat golongan madya dan golongan atas atau masyarakat upakota.

2.2.2.2 Teori Sektor

Teori sektor (Sector Theory) menurut Humer Hoyt yang mengatakan bahwa kota tersusun sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:130)

(1) Pada lingkaran pusat terdapat pusat kota;

(2) Pada sektor tertentu terdapat kawasan industri ringan dan kawasan perdagangan;

(3) Dekat pusat kota dan dekat sektor tersebut di atas, pada bagian sebelah menyebelahnya, terdapat sektor murbawisma, yaitu kawasan tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh;

(4) Agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan, terletak sektor madyawisma;

(5) Lebih jauh lagi terdapat sektor adiwisma, kawasan tempat tinggal golongan atas.

2.2.2.3 Teori Pusat Lipatganda 

Teori pusat lipatganda (Multiple Nuclei Concept) menurut R. D. Mc Kenie menerangkan bahwa kota meliputi: pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian, dan pusat lainnya. Teori ini umumnya berlaku untuk kota-kota yang agak besar. Menurut teori ini kota terdiri atas: (Jayadinata, 1999:132)

(1) Pusat kota atau CBD;

(2) Kawasan niaga dan industri;

(3) Kawasan murbawisma, tempat tinggal berkualitas rendah;

(4) Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah;

(5) Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi;

(6) Pusat industri berat;

(7) Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran;

(8) Upakota, untuk kawasan madyawisma dan adiwisma;

(9) Upakota (suburb) untuk kawasan industri.



&lt;!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--&gt;

Gambar 2.4 Teori mengenai pola penggunaan tanah di kota


--------------------------------------------------------------------------------

Possibly related posts: (automatically generated)

Menggagas Desain Sign System Kawasan Wisata Yogyakarta
POSITIVE ACCOUNTING THEORY: APAKAH PERLU DIKRITIK?
Mencari keberkatan pengajian tinggi


Filed under: Penelitian, Penelitian 1 

« Tinjauan Pustaka: Pola Persebaran Permukiman Tinjauan Pustaka: Ketentuan-ketentuan Tentang Jalan »</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>2 Tinjauan Teori Lokasi</p>
<p>Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006:77).</p>
<p>Salah satu hal banyak dibahas dalam teori lokasi adalah pengaruh jarak terhadap intensitas orang bepergian dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Analisis ini dapat dikembangkan untuk melihat suatu lokasi yang memiliki daya tarik terhadap batas wilayah pengaruhnya, dimana orang masih ingin mendatangi pusat yang memiliki daya tarik tersebut. Hal ini terkait dengan besarnya daya tarik pada pusat tersebut dan jarak antara lokasi dengan pusat tersebut.</p>
<p>Terkait dengan lokasi maka salah satu faktor yang menentukan apakah suatu lokasi menarik untuk dikunjungi atau tidak adalah tingkat aksesibilitas. Tingkat aksesibilitas adalah tingkat kemudahan untuk mencapai suatu lokasi ditinjau dari lokasi lain di sekitarnya (Tarigan, 2006:78). Menurut Tarigan, tingkat aksesibilitas dipengaruhi oleh jarak, kondisi prasarana perhubungan, ketersediaan berbagai sarana penghubung termasuk frekuensinya dan tingkat keamanan serta kenyamanan untuk melalui jalur tersebut.</p>
<p>Dalam analisis kota yang telah ada atau rencana kota, dikenal standar lokasi (standard for location requirement) atau standar jarak (Jayadinata, 1999:160) seperti terlihat pada tabel 2.1 berikut:</p>
<p>Tabel 2.1</p>
<p>Standar Jarak Dalam Kota</p>
<p>No<br />
 Prasarana<br />
 Jarak dari tempat tinggal (berjalan kaki)</p>
<p>1</p>
<p>2</p>
<p>3</p>
<p>4</p>
<p>5</p>
<p>6</p>
<p>7</p>
<p>8</p>
<p>9<br />
 Pusat tempat kerjaPusat kota (dengan pasar, dan sebagainya)Pasar lokal</p>
<p>Sekolah Dasar</p>
<p>Sekolah Menengah Pertama</p>
<p>Sekolah Lanjutan Atas</p>
<p>Tempat bermain anak-anak dan taman lokal</p>
<p>Tempat olah raga dan pusat lalita (rekreasi)</p>
<p>Taman untuk umum atau cagar (seperti kebun binatang, dan sebagainya<br />
 20 sampai 30 menit30 sampai 45 menit¾ km atau 10 menit</p>
<p>¾ km atau 10 menit</p>
<p>1 ½ km atau 20 menit</p>
<p>20 atau 30 menit</p>
<p>¾ km atau 20 menit</p>
<p>1 ½ km atau 20 menit</p>
<p>30 sampai 60 menit</p>
<p>Sumber: Chapin dalam Jayadinata (1999:161)</p>
<p>Standar yang digunakan harus menggunakan jenis transportasi yang sama seperti pada tabel di atas diukur berdasarkan waktu tempuh dengan berjalan kaki.</p>
<p>2.2.1 Teori Tempat Pemusatan</p>
<p>Suatu tempat merupakan pusat pelayanan. Menurut Christaller, pusat-pusat pelayanan cenderung tersebar di dalam wilayah menurut pola berbentuk heksagon (segi enam). Keadaan seperti itu akan terlihat dengan jelas di wilayah yang mempunyai dua syarat: (1) topografi yang seragam sehingga tidak ada bagian wilayah yang mendapat pengaruh dari lereng dan pengaruh alam lain dalam hubungan dengan jalur pengangkutan, (2) kehidupan ekonomi yang homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, yang menghasilkan padi-padian, kayu atau batu bara.</p>
<p>Dalam keadaan yang mempunyai kedua syarat seperti di atas itu akan berkembang tiga hal (Jayadinata, 1999:180) seperti diterangkan di bawah ini.</p>
<p>Ajang jasa (ajang niaga) akan berkembang secara wajar di seluruh wilayah dengan jarak dua jam berjalan kaki atau 2 x 3,5 = 7 km. Secara teori tiap pusat pelayanan melayani kawasan yang berbentuk lingkaran dengan radius 3,5 km (satu jam berjalan kaki), jadi pusat wilayah layanan akan terletak di pusat kawasan tersebut. Teori ini disebut teori tempat pemusatan (central place theory).<br />
Kawasan-kawasan berbentuk lingkaran yang saling berbatasan, walaupun bentuk lingkaran adalah paling efisien, akan mempunyai bagian-bagian yang bertumpang tindih atau bagian-bagian yang senjang (kosong), sehingga bentuk lingkaran itu tidak biasa digunakan untuk kawasan atau wilayahnya. Berhubung dengan itu Christaller mengemukakan bahwa pusat pelayanan akan berlokasi menurut pola heksagon, sehingga wilayah akan saling berbatasan tanpa bertumpang tindih.<br />
Dalam wilayah akan berkembang ajang niaga dalam pola heksagon. Yang palng banyak adalah dusun-dusun sebagai pusat perdagangan yang melayani penduduk wilayah pedesaan. Satu dusun dengan dusun lainnya akan menempuh jarak 7 km.<br />
<!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--></p>
<p>Gambar 2.2 Hipotesis Christaller</p>
<p>Dalam asumsi yang sama dengan Christaller, Lloyd (Location in space, 1977) melihat bahwa jangkauan/luas pelayanan dari setiap komoditas itu ada batasnya yang dinamakan range dan ada batas minimal dari luas pelayanannya dinamakan threshold. (Tarigan, 2006:79)</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan model Christaller tentang terjadinya model area pelayanan heksagonal sebagai berikut: (Tarigan, 2006:80)</p>
<p>Mula-mula terbentuk area pelayanan berupa lingkaran-lingkaran. Setiap lingkaran memilik pusat dan menggambarkan threshold. Lingkaran-lingkaran ini tidak tumpang tindih seperti pada bagian A dari Gambar 2.3.<br />
<!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--></p>
<p>Gambar 2.3 Kronologi terjadinya area pelayanan heksagonal</p>
<p>Kemudian digambarkan lingkaran-lingkaran berupa range dari pelayanan tersebut yang lingkarannya boleh tumpang tindih seperti terlihat pada bagian B.<br />
Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih, seperti terlihat pada bagian C.<br />
4. Tiap pelayanan berdasarkan tingkat ordenya memilik heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k=3, pelayanan orde I lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde II. Pelayanan orde II lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde III, dan seterusnya. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar kecilnya sesuai dengan besarnya heksagonal tersebut. Heksagona yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih, seperti terlihat pada bagian D.</p>
<p>2.2.2 Pola Tata Guna Tanah Perkotaan</p>
<p>Dalam pola tata guna tanah perkotaan yang berhubungan dengan nilai ekonomi, terdapat beberapa teori sebagai berikut:</p>
<p>2.2.2.1 Teori Jalur Sepusat</p>
<p>Teori jalur sepusat atau Teori Konsentrik (Consentric Zone Theory) E.W. Burgess, mengemukakan bahwa kota terbagi sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:129)</p>
<p>(1) Pada lingkaran dalam terletak pusat kota (central business district atau CBD) yang terdiri atas: bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, dan toko pusat perbelanjaan;</p>
<p>(2) Pada lingkaran tengah pertama terdapat jalur alih: rumah-rumah sewaan, kawasan industri, perumahan buruh;</p>
<p>(3) Pada lingkaran tengah kedua terletak jalur wisma buruh, yakni kawasan perumahaan untuk tenaga kerja pabrik;</p>
<p>(4) Pada lingkaran luar terdapat jalur madyawisma, yakni kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja halus dan kaum madya (middle class);</p>
<p>(5) Di luar lingkaran terdapat jalur pendugdag atau jalur pengelajon (jalur ulang-alik); sepanjang jalan besar terdapat perumahan masyarakat golongan madya dan golongan atas atau masyarakat upakota.</p>
<p>2.2.2.2 Teori Sektor</p>
<p>Teori sektor (Sector Theory) menurut Humer Hoyt yang mengatakan bahwa kota tersusun sebagai berikut: (Jayadinata, 1999:130)</p>
<p>(1) Pada lingkaran pusat terdapat pusat kota;</p>
<p>(2) Pada sektor tertentu terdapat kawasan industri ringan dan kawasan perdagangan;</p>
<p>(3) Dekat pusat kota dan dekat sektor tersebut di atas, pada bagian sebelah menyebelahnya, terdapat sektor murbawisma, yaitu kawasan tempat tinggal kaum murba atau kaum buruh;</p>
<p>(4) Agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan, terletak sektor madyawisma;</p>
<p>(5) Lebih jauh lagi terdapat sektor adiwisma, kawasan tempat tinggal golongan atas.</p>
<p>2.2.2.3 Teori Pusat Lipatganda </p>
<p>Teori pusat lipatganda (Multiple Nuclei Concept) menurut R. D. Mc Kenie menerangkan bahwa kota meliputi: pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian, dan pusat lainnya. Teori ini umumnya berlaku untuk kota-kota yang agak besar. Menurut teori ini kota terdiri atas: (Jayadinata, 1999:132)</p>
<p>(1) Pusat kota atau CBD;</p>
<p>(2) Kawasan niaga dan industri;</p>
<p>(3) Kawasan murbawisma, tempat tinggal berkualitas rendah;</p>
<p>(4) Kawasan madyawisma, tempat tinggal berkualitas menengah;</p>
<p>(5) Kawasan adiwisma, tempat tinggal berkualitas tinggi;</p>
<p>(6) Pusat industri berat;</p>
<p>(7) Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran;</p>
<p>(8) Upakota, untuk kawasan madyawisma dan adiwisma;</p>
<p>(9) Upakota (suburb) untuk kawasan industri.</p>
<p><!--[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]--></p>
<p>Gambar 2.4 Teori mengenai pola penggunaan tanah di kota</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Possibly related posts: (automatically generated)</p>
<p>Menggagas Desain Sign System Kawasan Wisata Yogyakarta<br />
POSITIVE ACCOUNTING THEORY: APAKAH PERLU DIKRITIK?<br />
Mencari keberkatan pengajian tinggi</p>
<p>Filed under: Penelitian, Penelitian 1 </p>
<p>« Tinjauan Pustaka: Pola Persebaran Permukiman Tinjauan Pustaka: Ketentuan-ketentuan Tentang Jalan »</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tinjauan Wilayah Pelayanan (Isoline) by alvcp</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-wilayah-pelayanan-isoline/#comment-14</link>
		<dc:creator>alvcp</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 17:06:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=14#comment-14</guid>
		<description>wah ada jg blog PL.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah ada jg blog PL.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Evaluasi Persebaran Sarana Pendidikan Menengah Dalam Rangka Peningkatan Aksesibilitas Sekolah by Qinimain Zain</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/evaluasi-persebaran-sarana-pendidikan-menengah-dalam-rangka-peningkatan-aksesibilitas-sekolah/#comment-13</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 02:35:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=3#comment-13</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? 

KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
 
WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. 

Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka. 

SUMBER  daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. 

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)</p>
<p>Strategi Pendidikan Milenium III<br />
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).</p>
<p>DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.</p>
<p>Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? </p>
<p>KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).</p>
<p>Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.</p>
<p>Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun &#8211; seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?</p>
<p>Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.</p>
<p>WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).</p>
<p>Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. </p>
<p>Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.</p>
<p>ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).</p>
<p>Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.</p>
<p>Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka. </p>
<p>SUMBER  daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).</p>
<p>Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. </p>
<p>BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Evaluasi Persebaran Sarana Pendidikan Menengah Dalam Rangka Peningkatan Aksesibilitas Sekolah by bhayu</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/evaluasi-persebaran-sarana-pendidikan-menengah-dalam-rangka-peningkatan-aksesibilitas-sekolah/#comment-12</link>
		<dc:creator>bhayu</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 14:22:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/?p=3#comment-12</guid>
		<description>emang sulit cari refensi keterkaitan pendidikan dengan pegembangan willayah. apa yo cukup dengan tok melihat apk n  apm aja, coba cari sisi perbandingan yang ke sma berapa n ke smk juga berapa, n tlg yo klo ada yang lain aku juga dikasih masukan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>emang sulit cari refensi keterkaitan pendidikan dengan pegembangan willayah. apa yo cukup dengan tok melihat apk n  apm aja, coba cari sisi perbandingan yang ke sma berapa n ke smk juga berapa, n tlg yo klo ada yang lain aku juga dikasih masukan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tinjauan Tingkat Pelayanan Sarana by hamid</title>
		<link>http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-tingkat-pelayanan-sarana/#comment-11</link>
		<dc:creator>hamid</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 06:20:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-tingkat-pelayanan-sarana/#comment-11</guid>
		<description>Lha aku lagi bingung cari perbedaan antara Skala pelayanan dan Radius pelayanan, brosing malah yang ketemu punyamu, Chep!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lha aku lagi bingung cari perbedaan antara Skala pelayanan dan Radius pelayanan, brosing malah yang ketemu punyamu, Chep!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
