Evaluasi Persebaran Sarana Pendidikan Menengah Dalam Rangka Peningkatan Aksesibilitas Sekolah

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

Kota Kediri yang dikenal sebagai “intercity” yang semua wilayahnya dikelilingi oleh beberapa kecamatan dilingkungan Kabupaten Kediri, selain itu menjadi wilayah lintasan beberapa kabupaten diantaranya Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, dan Blitar. Dengan melihat kondisi geografi tersebut, Kota Kediri menjadi pusat layanan tidak hanya untuk wilayahnya sendiri (internal) melainkan juga wilayah tetangga (eksternal) terutama wilayah Kabupaten Kediri yang berbatasan dengan Kota Kediri.

Dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Kediri (2003-2013) juga disebutkan pengembangan sarana pendidikan diprioritaskan menyebar mengikuti persebaran daerah permukiman. Lokasi sarana pendidikan diharapkan berada dalam jarak yang optimum terhadap kawasan penduduk atau daerah permukiman, supaya pelajar tidak memerlukan jarak perjalanan yang jauh untuk menjangkau sarana pendidikan.

Dalam Rencana Strategis Dinas Pendidikan Kota Kediri tahun 2007-2011 dijelaskan bahwa . Rencana Pencapaian Visi Dinas Pendidikan Kota Kediri tahun 2007 – 2011 dibagi dalam 4 tahapan  sebagai berikut :

a.      Tahun 2007 pelayanan pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana untuk program Wajar Dikdas 9 tahun, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Luar Sekolah.

b.      Tahun 2008 Pelayanan pendidikan diarahkan pada peningkatan mutu sarana dan prasarana Program Wajar Dikdas 9 Tahun dan Pendidikan Menengah serta Pendidikan Luar Sekolah

c.      Tahun 2009 Pelayanan pendidikan diarahkan pada penyediaan sarana dan prasarana penunjang mutu pendidikan di semua jenjang baik formal maupun non formal, serta peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan serta rintisan sarana prasarana Wajar Dikdas 12 Tahun

d.      Tahun 2010 Pelayanan diarahkan pada  peningkatan mutu fasilitas  kelembagaan dalam rangka penerapan standar pelayanan minimal daerah dan nasional serta penerapan Wajar Dikdas 12 Tahun.

e.      Tahun 2011 diharapkan semua visi yang telah ditetapkan dapat dicapai.

Analisis persebaran sekolah menengah utamanya dilakukan untuk mendukung rencana pencapaian visi pada tahun 2009 untuk wajib belajar 12 tahun. Analisis persebaran sekolah menengah penting dilakukan karena indikator pemerataan akses yang selama ini dijadikan acuan adalah dari Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Dari data APK dan APM yang diperoleh melalui Dinas Pendidikan Kediri pada tahun 2007 menunjukkan angka diatas 100%.  Untuk APK Pendidikan menengah Kota Kediri tahun 2007 adalah 136,54% dan APM adalah 110,39%. Tingginya APK dan APM adalah akibat banyaknya siswa usia diluar usia sekolah dan siswa dari luar kota yang berada di jenjang tersebut.

Dari data APM menunjukkan bahwa penduduk usia sekolah untuk Pendidikan menengah (16-19 tahun) telah terpenuhinya pemerataan untuk wilayah internal, bahkan terdapat angka lebih yang merupakan penduduk dari wilayah eksternal Kota Kediri. Hal ini juga didukung oleh data jumlah siswa untuk tingkat pendidikan menengah pada tahun 2007 adalah 26.135 siswa, sementara jumlah penduduk usia 16-19 tahun dari data Dinas Kependudukan tahun 2007 adalah 18.038 orang.

Permasalahan yang muncul adalah apabila ditinjau dari persebaran sekolah, maka sekolah menengah di Kota Kediri masih mengelompok di Kecamatan Kota dan Mojoroto saja, sementara di Kecamatan Pesantren jumlahnya masih sangat sedikit. Kondisi ini sangat mempengaruhi skala pelayanan dan aksesibilitas sarana pendidikan menengah di Kota Kediri.

Tabel 1.1

Data Jumlah Sarana Pendidikan Menengah Kota Kediri Tahun 2007

 

Kecamatan

Luas (km2)

Jumlah Penduduk

Jumlah Sekolah

Mojoroto

24,6

87.768

24

Kota

14,9

76.638

22

Pesantren

23,9

71.766

2

Jumlah

63,4

236.172

48

Sumber: Olahan dari Badan Pusat Statistik(2007), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil(2007), Dinas Pendidikan – Kota Kediri(2007).

Dengan pola persebaran yang mengelompok tentunya memiliki beberapa kelebihan dan  kekurangan. Kelebihan dari pola sebaran yang mengelompok diantaranya memberikan kemudahan dalam melakukan koordinasi organisasi, terjadi persaingan yang sehat untuk meningkatkan mutu pelayanan, mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Kekurangannya antara lain mempercepat terciptanya kepadatan lalu lintas yang tinggi dan mendorong terciptanya high cost economy (Tarigan, 2005:26).

Mengelompoknya sekolah menengah di pusat kota merupakan efek dari fungsi kota sebagai pusat pelayanan. Banyaknya fasilitas pendidikan menjadi salah satu daya tarik sebuah kota. Kondisi ini menciptakan sebuah hubungan dengan daerah lain baik daerah hinterland (belakang) maupun daerah eksternal. Hubungan keluar ini dinyatakan dengan pemanfaatan fasilitas pendidikan oleh masyarakat dari daerah belakangnya maupun dari daerah eksternal.

Sarana dan prasarana trasportasi yang meliputi jalan dan alat angkut transportasi  merupakan sarana untuk memperpendek jarak antara daerah satu dengan yang lain. Semua sarana tersebut ditujukan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari satu tempat ke tempat lain, meningkatkan mobilitas manusia ke tempat tujuan baik dari pedesaan sampai perkotaan, daerah perbatasan sampai daearah terpencil, atau membantu kemudahan siswa dari tempat tinggal menuju ke sarana pendidikan (sekolah).

Untuk menghubungkan daerah permukiman menuju fasilitas sarana pendidikan diperlukan jaringan jalan yang memadai. Pola persebaran sekolah yang terpusat membutuhkan kondisi jalan yang baik, sehingga dapat mengurangi tingkat kepadatan lalu lintas dan menurunkan biaya ekonomi yang muncul untuk menjangkau fasilitas tersebut.

Dari uraian tersebut perlu dilakukan analisis tingkat pelayanan dan skala pelayanan untuk mengetahui sejauh mana fasilitas pendidikan menengah yang memiliki pola persebaran terpusat dapat menjangkau daerah hinterland atau bahkan dapat menjangkau daerah diluar wilayah pelayanannya. Analisis tingkat aksesibilitas juga diperlukan untuk mengukur sampai sejauh mana fasilitas pendidikan menengah dapat menjangkau permukiman yang ada, dikaitkan dengan jaringan jalan.

1.2.            Identifikasi Masalah

a.      Terdapat disparitas jumlah sarana sekolah menengah yang ada di masing-masing kecamatan.  Dengan sebaran penduduk yang merata di setiap kecamatan (Kecamatan Mojoroto 87.768 jiwa, Kecamatan Kota 76.638 jiwa, Kecamatan Pesantren 71.766 jiwa) tidak diimbangi dengan jumlah sarana sekolah menengah yang ada (Kecamatan Mojoroto 24 sekolah, Kecamatan Kota 22 sekolah, Kecamatan Pesantren 2 sekolah).

b.      Standar pelayanan berdasarkan Permen nomor 24 tahun 2007 menyebutkan Satu  SMA/MA  dengan  tiga  rombongan  belajar  melayani  maksimum  6000  jiwa. Kondisi yang ada di Kecamatan Pesantren dengan penduduk 71.766 jiwa hanya terdapat dua unit sekolah menengah.

1.3.            Rumusan Masalah

a.      Bagaimana kondisi sebaran permukiman di Kota Kediri ?

b.      Bagaimana tingkat pelayanan sekolah menengah di Kota Kediri ?

c.      Bagaimana rekomendasi untuk meningkatkan aksesibilitas sekolah menengah di Kota Kediri ?

1.4.            Tujuan

a.      Mengetahui kondisi eksisting sebaran permukiman di Kota Kediri.

b.      Mengetahui tingkat pelayanan sarana pendidikan menengah di Kota Kediri.

c.      Memberikan rekomendasi  untuk meningkatkan aksesibilitas sekolah menengah di Kota Kediri.

1.5.            Manfaat

a.      Bagi peneliti dapat meningkatkan keilmuan serta memperluas wawasan dalam bidang perencanaan wilayah dan kota khususnya mengenai perencanaan sarana pendidikan.

b.      Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan untuk penelitian selanjutnya mengenai sarana pendidikan.

c.      Bagi Pemerintah khususnya Badan Perencana Pembangunan Kota dan Dinas Pendidikan, diharapkan dapat menjadi pertimbangan maupun masukan dalam perencanaan penyediaan sarana pendidikan.

d.      Bagi Pemerintah hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meberikan informasi mengenai tingkat pelayanan sarana pendidikan menengah di Kota Kediri sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pengembangan kawasan pendidikan dan peningkatan pelayanan sarana pendidikan di masa yang akan datang.

e.      Bagi masyarakat, diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat pelayanan sarana pendidikan menengah di Kota Kediri sehingga dapat meningkatkan semangat untuk berpartisipasi  dalam pembangunan dan pengembangan pendidikan khususnya dalam hal peningkatan pelayanan atau aksesibilitas sarana pendidikan menengah.

1.6.            Ruang Lingkup

1.6.1.      Ruang Lingkup Wilayah

Sesuai dengan Undang – Undang 22 tahun 2004, pemerintah daerah merupakan koordinator semua instansi sektoral dan kepala daerah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pembinaan dan pengembangan wilayahnya. Pembinaan dan pengembangan tersebut mencakup segala bidang kehidupan dan bidang pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kota Kediri sebagai satu kesatuan wilayah pemerintahan, melaksanakan pembangunan yang memiliki arah dan tujuan tertentu yang harus dicapai melalui pembangunan disemua bidang, termasuk dibidang pendidikan. Hal itu berarti, bahwa rencana pembangunan pendidikan di  Kota Kediri tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana pembangunan kota secara keseluruhan. Oleh karena itu, segala usaha dan kegiatan pembinaan dan pengembangan di bidang pendidikan di kota harus berada di bawah koordinasi atau sepengetahuan dari pemerintah daerah, untuk menjaga keserasian dan keterkaitannya dengan sektor lain dalam rangka mencapai sasaran dan tujuan pembangunan daerah yang telah ditetapkan.

Kota  Kediri  terdiri dari 3 ( tiga ) Kecamatan dan terbagi dalam 46 Kelurahan dengan luas wilayah seluruhnya 63.40 Km², pada tahun 2002, sesuai dengan Perda ( Peraturan Daerah ) No.11 tahun 2002 tentang Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan tanggal 25 Juni 2002 , maka Kota Kediri tidak lagi dijumpai Satus Desa, akan tetapi telah menjadi Kelurahan tanpa terkecuali dengan jumlah kelurahan secara keseluruhan adalah 46 ( empat puluh enam) , 14 ( empat belas) kelurahan ada di Kecamatan Mojoroto, 17 (tujuh belas) kelurahan ada di Kecamatan Kota dan 15 (lima belas) Kelurahan ada di Kecamatan Pesantren, adapun jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 296, dan Rukun Tetangga ( RT) sebanyak 1.338. ( lihat tabel 1.2 )

 

Tabel 1.2

Administrasi Pemerintahan Kota Kediri

Tahun 2007

No.

Variabel

Jumlah

1

Kota

1

2

Kecamatan

3

3

Kelurahan

46

4

Rukun Warga (RW)

296

5

Rukun Tetangga (RT)

1.338

6

Luas Wilayah

63.40 Km²

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Kediri 2007

1.6.2.      Ruang Lingkup Materi

Materi yang akan di bahas dalam penelitian ini meliputi:

1.      Penelitian ini hanya  akan membahas sarana pendidikan menengah  saja. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 18 dijelaskan bahwa Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

2.      Identifikasi karakteristik sebaran permukiman  di Kota Kediri

Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sebaran permukiman terhadap sarana pendidikan menengah di Kota Kediri. Pembahasannya dengan metode deskripsi menggunakan peta permukiman yang dipadukan dengan peta jaringan jalan, peta rute alat transportasi umum dan sebaran sarana pendidikan menengah. Analisis ini menggunakan data  yang diperoleh melalui survey primer (pengamatan langsung di lapangan) dan survey sekunder (data-data yang diperoleh dari instansi seperti, Bappeko, Dinas Perhubungan dan Dinas Pekerjaan Umum Kota Kediri). Pembahasan ini dilakukan untuk memberikan gambaran sebaran permukiman terhadap sarana pendidikan menengah di Kota Kediri sebagai dasar untuk melakukan analisis-analisis berikutnya.

2.  Analisis tingkat pelayanan sarana pendidikan menengah di Kota Kediri.

Pembahasan ini bertujuan untuk menentukan tingkat pelayanan sarana pendidikan menengah.  Analisis ini dilakukan adalah :

a.      Analisis eksisting jumlah sarana dengan menggunakan matriks indeks sentralitas. Matriks indeks sentralitas merupakan bagian dari matriks fungsi wilayah atau yang sering disebut dengan analisis fungsi. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui letak pusat pelayanan untuk sekolah menengah. Selain itu matriks indeks sentralitas digunakan untuk mengetahui berapa jenis sarana yang ada, jumlah sarana yang ada, jumlah penduduk yang dilayani, dan seberapa besar frekuensi keberadaan suatu sarana serta frekuensi kegiatan sarana yang bersangkutan dalam satu satuan wilayah tertentu. Dalam penelitian ini jenis sarana pendidikan menengah adalah SMA, MA, dan SMK.

b.      Analisis tingkat pelayanan jumlah sarana berdasarkan standar. Tingkat pelayanan berdasarkan standar akan berpedoman pada standar yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah.

c.      Analisis wilayah pelayanan (Isoline). Untuk mengetaui jarak jangkauan dan wilayah pelayanan maka perlu dibentuk isoline, yaitu suatu alat yg dapat digunakan untuk menganalisis tingkat aksesibilitas sarana pendidikan menengah terhadap fungsi-fungsi pelayanan yang ada disekitarnya atau wilayah pelayanannya. Analisis wilayah pelayanan digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana sarana pendidikan menengah di Kota Kediri dapat menjangkau permukiman yang ada, dikaitkan degan prasarana dan sarana transportasi. Analisis ini juga digunakan untuk mengetahui daerah yang terintegrasi (terjangkau fungsi pelayanan) dan yang tidak terintegrasi (terisolir dari fungsi-fungsi pelayanan), biasanya daerah hinterland yg seharusnya berada dalam lingkungan target dari pusat pelayanan atau diluar lingkungan target pelayanan

3.      Memberikan rekomendasi untuk peningkatan aksesibilitas sekolah menengah yang ada di Kota Kediri. Analisis ini akan membahas mengenai beberapa rekomendasi yang dapat diberikan bagi peningkatan aksesibilitas sekolah menengah di Kota Kediri. Rekomendasi peningkatan aksesibilitas ini diperoleh dari hasil analisis-analisis yang telah dilakukan sebelumnya. Metode yang digunakan  dalam menentukan arahan peningkatan aksesibiltas sekolah menengah adalah menggunakan metode pembobotan (scoring). Metode pembobotan digunakan karena dalam penentuan rekomendasi peningkatan aksesibiltas sarana pendidikan diperlukan hasil-hasil dari analisis sebelumnya yang dipergunakan untuk menentukan sarana-sarana yang membutuhkan peningkatan untuk pelayanannya dan perlakuan yang diperlukan untuk peningkatan pelayanan tersebut.

1.7.            Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir berisikan penjelasan singkat mengenai penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap proses analisis persebaran sarana pendidikan menengah di Kota Kediri.

Latar Belakang

§   RTRW Kota Kediri (2003-20013) disebutkan pengembangan sarana pendidikan diprioritaskan menyebar mengikuti persebaran daerah permukiman.

§   Persebaran sekolah menengah yang mengelompok pada lokasi tertentu

 

Identifikasi Masalah

§   Dengan sebaran penduduk yang merata di setiap kecamatan (Kecamatan Mojoroto 87.768 jiwa, Kecamatan Kota 76.638 jiwa, Kecamatan Pesantren 71.766 jiwa) tidak diimbangi dengan jumlah sarana sekolah menengah yang ada (Kecamatan Mojoroto 24 sekolah, Kecamatan Kota 22 sekolah, Kecamatan Pesantren 2 sekolah).

 

§   Di kecamatan Pesantren jumlah sekolah tidak sesuai dengan standar yang ada. Dengan jumlah penduduk 71.766 jiwa hanya terdapat 2 unit sekolah menengah

Rumusan Masalah 1

Bagaimana kondisi persebaran permukiman di Kota Kediri ?

Rumusan Masalah 2

Bagaimana tingkat pelayanan sekolah menengah di Kota Kediri ?

Rumusan Masalah 3

Bagaimana rekomendasi untuk meningkatkan aksesibilitas sekolah menengah  di Kota Kediri ?

 

Tinjauan Teori

§   Teori sebaran permukiman.

§   Ketentuan tentang jalan

§   Teori lokasi Christaller

 

Tinjauan Teori

§   Standar sarana dan prasarana sekolah

§   Teori tentang Matriks Indeks Sentralitas

§   Teori wilayah pelatanan Isoline

Kesimpulan dan Saran

kerangka pikir

Gambar 1.2 Kerangka Pemikiran

11 Responses

  1. Klo ada teori dan konsep ttg lokasi infrastruktur pendidikan (sekolah, khususnya SMK) bagi2 dong.
    Soalnya sekarang ini saya lg bth masukan ttg penentuan lokasi SMK buat bahan penelitian.
    Ato klo mau, kita bisa tuker2 pikiran and infomasi ma data.

    Thanks
    Zaki

  2. di Permendiknas no 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah. Cukup lengkap… coba aja search di google, bisa di download kok

  3. Apa sesuai standar jangkauan pelayanan digunakan untuk mengukur intensitas pelayanan dengan memanfaatkan batas administrasi suatu wilayah?

    Bukankah standar jangkauan pelayanan memberikan batasan fisik (ukuran ril = meter) bukan aturan administrasi (seperti kecamatan).

  4. Seringnya permen/kebijakan tdk bisa dijadikan landasan.
    Tolong jika ada refernsi.
    Trims

  5. bagus…..
    nek tesisise mari ya upload dong
    biar tahu
    kelompok budi kan belum mau seminar hasil bahkan ada yang belum seminar proposal

    kasiahaaaan
    sur
    maaf jaker nya jadi pesen to.. pak bambang gimana katanya mau sumbang
    tanyakan mas….

  6. emang sulit cari refensi keterkaitan pendidikan dengan pegembangan willayah. apa yo cukup dengan tok melihat apk n apm aja, coba cari sisi perbandingan yang ke sma berapa n ke smk juga berapa, n tlg yo klo ada yang lain aku juga dikasih masukan..

  7. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  8. Bagi sumber bacaannya donk. TQ

  9. Mas, saya mau mempelajari banyak tentang topik ini. Tolong tuliskan sumber bacaannya sebagai rujukan tambahan. Terima kasih

  10. ass. mas…..bisa tuliskan sumber bacaan nya sebagai rujukan … ^_^’

  11. ass.pak..
    mauu tanyaa untuk analisis isoline itu..bapak mendapat referensinya dari buku apa pak?
    mohon bantuannya ya pak..
    untuk skripsi sayaa,,

    trimakasih pak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: